Senin, 02 Desember 2013

Satu

Sebuah Perjuangan 

          Aku seorang anak desa yang terpencil berada di pulau Sumatra. Ya tepatnya di daerah Embacang salah satu sebuah desa yang ada di Kabupaten Ogan Komering Ilir Kecamatan Mesuji Raya. Desa ini bisa dikatakan masih begitu primitif dengan berbagai nilai-nilai tentang sebuah kehidupan. 
          Di desa ini juga perpecahan menjadi sebuah hal yang biasa antar keluarga sendiri, tetangga atau pun orang-orang yang ada didaerah luarnya. Matakun pun seringkali menyaksikan hal itu terjadi. Pengangguran begitu banyak, anak-anak yang putus sekolah karena biaya bahkan anak yang tidak mau sekolah pun ada. Mereka lebih asyik bermain di sungai, mencari kehidupan sendiri menantang kerasnya bahaya yang ada, dan bahkan mereka lebih memilih menjadi anak sampah, baik itu sampah yang sesungguhnya maupun sampah sebagai anak-anak terbuang di masyarakat.
           Kepercayaan pada hal-hal yang secara logika benar-benar tidak dapat dijelaskan juga menjadi kental. Bahkan dirumah-rumah akan menemukan banyak hal kejangganlan, mulai dari kris-kris yang sakti katanya, ayat-ayat suci Al-Qur'an yang tertempel sebagai penangkal jin dan setan, maupun gambar-gambar atau pun cincin yang mampu membawa kebesaran nama mereka dan keselamatan keluarga mereka. Begitulah gejolak mitos selama ini yang terjadi. Khawatir sekali malah nanti semua kepercayaan itu beralih pada mereka menggantikan itu sebagai Tuhan.
          Walaupun desaku terbelakang dan terpencil, tapi desa ini cukup kaya, bila melewati sepanjang perjalanannya akan sangat banyak ditemui pohon-pohon karet, kelapa sawit, serta perkebunan yang lainnya. Itulah salah satu dari sekian banyak penghasilan yang ada di desaku, selain berjudi, bahkan merampok sekalipun. Mencari penghidupan disungai yang terkadang memuaskan tapi terkadang juga mengecewakan. Tapi anak-anak di desa ini seringkali melakukan hal itu. Ya lumayan sebagai penghasilan tambahan untuk menambah uang jajan di sekolah. 
          Asyik sebenarnya kehidupan di desa ini. Tapi keasyikan itu terbatas oleh banyak hal. Mulai dari listrik yang belum ada, kalau malam ya gelap gulita desa ini, yang terlihat pun hanya cahaya-cahaya redup dari lampu stongking, serta lampu buatan sendiri dari kaleng atau pun botol-botol minuman. Semua bisa dijadikan apa saja agar kehidupan disini tetap berjalan dengan baik dnegan segala keterbatasan yang ada. Selain listrik, disini sistem tekonologi maupun informasi masih sangat-sangat kurang, hanya beberapa rumah saja yang memiliki TV, VCD, aku pun seringkali kalau lepas maghrib menonton di tetangga, alhamdulillah gratis. Ada juga yang berbayar. Biasanya ada pemutaran film seperti kalau sekarang itu bioskop, tapi ini semi-bioskop, tapi asyik juga. Hanya dengan uang 2 ratus rupiah aku sudah bisa menyaksikan filmnya. Tapi walau 2 ratus itu sangatlah sulit dan mahal. Seringkali aku harus nangis-nangis dulu baru bisa mendapatkan uang 2 ratus rupiah. Bahkan seringkali aku bergantian dengan beberapa temanku untuk masuk. Mungkin, sekarang 2 ratus apalah artinya, tapi saat itu begitu berarti sekali. Film-film yang disaksikan juga terkadang kurang mendidik saat pemutaran pemanasan diawal terkadang muncul adegan-adegan yang seharusnya tidak baik ditonton anak-anak seumuran kami, tapi film yang sering kutonton adalah film Rhoma Irama, atau pun film-film Barry Prima dan Advent Bangun saat itu merupakan aktor terkenal.
          Asyik sekali, tapi seringkali aku harus menggigit jari melihat teman sepermainanku. Ada saat-saatnya kami harus saling merasakan keberadaan hidup yang diatas dan dibawah. Tapi aku seringkali menggigit jari itu, melihat teman-temanku bermain kelereng, karet gelang, gambaran, serta bermain beong. Saking ingin merasakan keasyikan yang sama seperti yang lain, aku berusaha ikut nimbrung dengan mereka walau menjadi pembantu mereka mengambilkan barang-barang mereka yang terlempar jauh, atau bisa dikatakan asistesnlah. Tapi bagiku walau hal itu sebenarnya menyakitkan, tapi yang ada dipikiranku adalah bisa bermain bersama mereka dan menikmati keasyikan yang sama, tertawa bersama, senyum bersama, dan bisa bergandengan tangan bersama. Saking aku ingin bisa menikmati hal itu, terkadang aku harus menyelam sampai mataku memerah untuk mencari barang-barang yang jatuh disungai agar mendapatkan ganti uang, bahkan hanya sebuah ucapan terimakasih sekalipun, terkadang juga mencari uang recehan dibalik lumpur-lumpur serta pepasiran yang ada di tepi sungai. Walau pun tidak seberapa dapatnya dibandingkan dengan kelelahan waktu serta tenaga yang dihabiskan, tapi itu semuanya bukan hal yang menjadi pertimbangan besar kecuali aku pun bisa ikut bermain dan merasakan kebahagiaan yang sama seperti teman-temanku yang lain. Bahkan aku juga rela mengangkut pepasiran dipinggir sungai ber-ember-ember hanya untuk mendapatkan uang seribu rupiah sekalipun.
         Untuk mengganti semua permainan itu agar kami merasakan hal yang sama. Maka, terkadang kita lebih sering menghabiskan waktu untuk bermain orkesan, dan bahkan kita bergantian untuk mendapatkan bagian yang sama dari setiap permainan. Bahkan lebih gilanya lagi kita buat itu seperti acara sebuah pernikahan. Kita siapkan semua peralatan mulai dari ember, nampan, baskom, kaleng, dan barang apa sajalah yang bisa dibuat untuk memeriahkan kegiatan itu. Bahkan tidak jarang kami dimarahi oleh orangtua temanku yang sering mengeluhkan peralatan dapurnya hilang bahkan pecah karena dijadikan alat-alat orkesan. Orkesan yang sering kami mainkan adalah konsep sang raja dangdut Rhoma Irama dan ratu dangdut Elvy Sukaesih. Aku berapa kali menirukan gaya Rhoma Irama, dan bahkan semua gerakan dan sebagainya menyamai persis dengan yang dimainkan Rhoma Irama. Serasa segala permasalahan hilang, dan semua kepenatan yang ada menjadi lebur ketika kami berbaur dalam keasyikan mendendangkan permainan okersan itu. 
          Namanya juga anak-anak, apa sajalah yang mengasyikkan entah itu baik atau tidak semua terkadang bukan menjadi persoalan utama. Bahkan kami pernah dimarahi orang-orang karena berisiknya suara permainan orkesan itu, kami juga pernah dikejar oleh tukang kebun karena mengambil tebu serta ubi kayu mereka. Tapi semua itu begitu asyik, rasanya sayang untuk dihilangkan begitu saja. Pertengkaran kecil yang terjadi, jam 2 bertengkar, maka jam 3 sudah berpelukan kembali. 
          Anak-anak ya, memang menggemeskan hati setiap orang yang melihatnya. Tapi terkadang kebanyakan orangtua ataupun masyarakat tidak memahami dunia anak-anak. Kebanyakan mereka menyamakan bahwa naka-anak harus berperilaku seperti orang dewasa, sama halnya aku dan teman-temanku, tidak jarang terkadang kami harus kejar-kejaran dengan orangtua kami karena takut dipukuli, dicubit dan lain sebagainya. Begitulah anak-anak, sebagian orang menganggap bahwa anak-anak hanya sebagai perusak dan pembuat onar, tapi di satu sisi anak-anak juga yang seringkali membuat orangtua tersenyum dan menikmati hidup ini penuh dengan ribuan kebahagiaan. Kalau mendengarkan lagu Rhoma Irama tentang kemandulan pasti sedih, dan semestinya orangtua harus mendengarkan lagu itu, dan inilah potongan lagunya:
sayangku padamu tak akan pudar 
walau seumur hidupmu dalam kemandulan
kurasa tiada sempurna kebahagiaan kita
tanpa adanya seorang putra belahan jiwa 
            Saat ini anak-anak seakan dieksploitasi sama seperti orang dewasa. Padahal meta kognitif mereka masih sepanjang suatu hal yang sensasional, bukan pada hal yang sudah logis dan kritis dalam memandang segala sesuatunya. Seharusnyalah orangtua harus memberikan pemahaman yang banyak kepada anaknya, agar anak-anak mampu menerawang hidup jauh lebih baik, begitu pun juga anak harus mengerti dan memahami dengan baik bahwa maksud orangtua itu baik sebagai bentuk curahan kasih sayang mereka. 
***
 
            Namun, keasyikan itu harus pupus sejenak bagaikan lampu yang menyala tiba-tiba mati tanpa ada isyarat sedikitpun.